belbuk

Toko Buku Online

Tak Gendong Mbah Surip

Ini adalah tulisan dari Arswendo Atmowiloto, beliau merupakan salah seorang seniman yang sangat dikenal di republik ini. Berikut ini hasil tulisannya tentang Mbah Surip. Tahukan dengan Mbah Surip, itu looo… penyanyi lagu tak gendong. Berikut ini tulisannya dengan judul Mantra 'Hahaha' Mbah Surip

Mbah Surip kini tenar dengan menggendong rambutnya yang gimbal, topi warna-warni, gerakan kaki seolah jalan di tempat, dan berteriak atau memperpanjang tawa hahaha-nya.

Melalui lagu yang diciptakan dan dinyanyikan, Tak Gendong (berarti kugendong, bukan tidak kugendong, karena "tak" di sini merupakan ungkapan bahasa Jawa) atau juga Bangun Tidur, Mbah Surip meneriakkan mantra dalam dunia musik. Dia bahkan tak perlu menyelesaikan lirik-liriknya ketika berada di panggung karena semua pendengarnya bisa melanjutkan dengan gairah.

Tanpa gundah, tanpa terbebani ke mana atau dari mana lirik itu bakal menukik. Itu karena mantra atau bahasa iklannya tag line bisa ditafsirkan atau diterima dalam berbagai versi, berbagai pengertian. Sebagaimana mantra "Lanjutkan"--yang bisa diartikan melanjutkan bencana alam--, "Lebih Cepat Lebih Baik"-kaum ibu mungkin tidak setuju--, atau "Pro Rakyat"-bisa berarti prodeo, cuma-cuma, atau proletar.

Tak ada yang salah dengan sebutan Mega Pro yang mengingatkan kita pada kendaraan bermotor, begitu pula lirik iklan mi dan presiden. "Mengingatkan kepada" atau juga "memberi makna" adalah peran mantra, yang berbingkai pada realitas atau bisa juga lepas. Dalam kaitan Mbah Surip, semakin kita mencoba "memberi makna", semakin terasa "hahaha"-nya.

Misalnya kalau mencoba bertanya dari mana ide kreatif itu muncul, ceritanya bisa panjang sejak California atau ketemu orang Korea atau apa saja. Itu tak penting benar karena kreativitas pun melewati pergumulannya sendiri: ketika seniman menciptakan, juga ketika masyarakat memahami. Proses kreatif tidak berhenti ketika sebuah karya diciptakan.

Proses kreatif justru menemukan multimakna dan interpretasi ketika berproses dalam masyarakat. Itu sebabnya sebuah karya kesenian tak pernah monomakna. Demikianlah ucapan atau lirik I love you full atau Together atau sekadar teriakan panjang "aaahahaaah" yang bukan "hahaha" menjadi soundable, enak didengar, diingat, dan ditirukan.

Ketika media massa melipatgandakan kemunculannya, ketika itulah proses kreatif dalam dunia bisnis membuahkan hasil manis. Mbah Surip menikmati ini. Seorang kakek, seorang ayah, yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi berbeda, menjadi aneh, dalam kreativitas media ... dan diterima, dan menyenangkan, menghibur.

Mbah Surip yang menghabiskan bergelas-gelas kopi, yang pergi show dengan membonceng motor- betapa ribet dengan kostum yang dikenakan, dengan jari-jari tangan yang pendek untuk ukuran tubuhnya, masih akan terus menggendong nasib baiknya. Sampai mantra itu berkurang gemanya, terlupakan, atau membosankan, atau-yang selalu terjadi--ada mantra lain.

Dari sisi Mbah Surip, keberadaannya yang kemudian adalah sangat tergantung pada mantra apa berikutnya, bagaimana pengemasan dan sambutan masyarakatnya. Mbah Surip bisa menjadi meteor-bersinar terang, sekejap, lalu hilang, atau bintang yang terus bersinar yang menetap di langit industri massa.***

Ada satu catatan yang agak terlupakan dalam proses kreatif semacam ini, yaitu bahwa sesungguhnya yang menopang karya seni yang merakyat ini adalah masyarakat kecil. Masyarakat "miskin" yang ternyata mempunyai apresiasi tinggi, mempunyai toleransi mengagumkan.

Masyarakat atau komunitas yang menampung, mendengarkan, memberi sesuatu ketika lagu itu diperdengarkan pada awalnya. Tak berbeda jauh dengan kehidupan para pengamen musik atau pengamen doger atau pengamen penari. Yang mendapatkan nafkahnya dari warung-warung kaki lima, dari warga di kampung-kampung, menerima pemberian "dari yang kekurangan", yang bisa menghargai.

Bukan dari fasilitas negara, bukan hasil bimbingan proyek khusus. Mbah Surip, sebagaimana para seniman lain, menemukan gagasan kreatif, juga kelangsungan kehidupan seninya, dari masyarakat kecil. Mereka ini sesungguhnya jumlahnya banyak sekali, yang terus berkreasi.

Melalui sanggar paspasan dengan bentuk perkumpulan lenong atau wayang orang atau keroncong atau apa saja-yang bahkan untuk mencari tempat latihan pun susah karena sering tergusur. Mereka ini tak memiliki lobi, tak punya waktu berbagai antara mencari makan dan berkreasi, tak punya prioritas-dan tak diprioritaskan.

Mereka menggendong hidup dan nasibnya sendiri secara full, tanpa gerutu, tanpa malu, tanpa bantuan tunai langsung. Dalam bahasa religius di kalangan mereka, modalnya adalah BLT dalam arti "Bantuan Tuhan Langsung".

Ada daya hidup di sana, di komunitas kecil yang pas-pasan dan tak mati-mati dan terus terasakan. Hubungan masyarakat dan pelaku seni ini benar-benar hubungan antar-darling, yang selalu together, dan selalu bisa kembali ke refrain.(*)
Sumber:okezone.com

1 komentar:

irvan mengatakan...

Kren mbah surip, RBT nya laku keras,tapi liat di TV, milyaran bro...hasil penjualannya

Posting Komentar

Copyright 2011 Informasi dan Teknologi
Designed by MutiarabhuanaPowered by Blogger